Sunday, 4 July 2010

Siput Menjadi Macan Tutul

Ada sebuah buku yang sangat menginspirasi hidupku. Banyak buku-buku lain yang tidak kalah bagusnya tapi kali ini ada yang sangat tepat dengan posisiku. Sebuah moto hidup yang dilontarkan oleh atasan penulis tersebut sambil teriak-teriak diatas meja hingga jatuh, 'impposible we do, miracle we try!!!' Begitu katanya. Akan kuterapkan dalam hidupku. Haha. Kalimat yang bagus untuk hidupku yang berliku naik turun seperti ke bukit.

Terkadang hidup itu tidak boleh diratapi saja. Harus ada perubahan yang berarti. Harus ada langkah. Tidak boleh diam saja. Karena waktu terus berjalan dan akhirnya meninggalkan kita jauh dibelakang dan tawa dari si Waktu dapat kita dengar. Bukan 'hahaha' lagi tapi 'buahahahaaahahaaaaaaaaa'. Menyebalkan bukan? Ini pengalamanku ketika aku duduk di sekolah menengah atas. Menjelang Ujian Nasional aku hanya diam berleha-leha tidak tau apa yang mau dikerjakan. Guru les yang datang terus menerus mengulang pelajaran itu dengan sabar sampai aku suntuk banget. Ini sudah mendekati titik jenuh paling atas. Aku bosan. Hampir setengah tahun ini hanya mengulang-ngulang pelajaran SMA. Apalagi pelajaran matematika. Salah satu pelajaran kesukaanku karena tidak perlu menghafal melainkan menggunakan logika hasilpun bisa didapatkan dengan mudah. Semakin diingatkan pada rumus makin bosan aku. Bukan caraku menyelesaikan permasalahan matematika menggunakan rumus. Selama sekolah aku jarang menggunakan buku tulis. Semua aku tulis di buku pelajaran itu ataupun di kertas lain dan akhirnya dibuang. Ingatanku memang tidak bagus. Tapi aku tidak menutupinya dengan menulis di buku tulis. Menurutku itu buang-buang kertas. Kalau memang penting aku akan tulis di buku pelajaran yang bersangkutan. Lebih baik. Aku malas sekali kalau harus menulis keseluruhan tulisan yang diberikan oleh guru - jangan tersinggung ya my lovely teacher. Aku hanya menulis yang penting. Hanya itu. Menulis di buku pelajaran pada dibagian yang kosong dan buku pelajaran menjadi sangat-sangat penting karena multifungsinya itu. Jika buku itu hilang aku hanya dapat membelinya ulang tapi tidak beserta dengan catatanku yang amburadul didalamnya. Hal ini membuatku susah meminjamkan buku pelajaran kepada orang lain karena aku membutuhkannya juga. Bukan karena pelit. Harta pendidikanku semua hanya ada disana.

Waktu terus berjalan mendekati hari bersejarah dalam dunia (ku). Tapi aku makin tidak semangat mengikuti pelajaran yang ada. Ketika libur malah belajar. Tidak ada hiburan yang terselip sama sekali. Tiap hari aku diberi makan pelajaran yang termasuk dalam ujian nasional. Hari ini bahasa Indonesia. Besok matematika. Besok fisika. Besok kembali ke matematika (nah loh?). Besoknya biologi. Besoknya lagi Kimia. Setelah itu matematika lagi. Dan begitu seterusnya. Aku sempat berpikir kalau guru-guru bersangkutan pada stress semua hingga jadwalpun tidak terususun dengan baik nan indah - misalnya disisipin permainan ps. Setelah lulus baru aku tau maksud dari jadwal gawat ini. Hahaha. Maaf ya guru-guruku tercinta, aku sempat berpikir jelek-jelek waktu itu. Hahaha *murid durhaka nih.

Setelah ujian nasional akan mulai 7 hari lagi, aku mulai panik. Sangat panik! Banyak pikiran negatif menyerang pikiranku ini dengan pedang-pedang yang lancip itu - jadi ingat rumus lancipnya segitiga. Banyak pesan singkat yang masuk dalam ponselku yang harus di kirim ulang ke teman lain dengan ancaman tidak lulus ujian membuatku makin tidak karuan. Pulsa tidak mencukupi. Aku makin dan semakin panik hingga stress. UN didepan mata saja belum terurus apalagi nanti untuk masuk perguruan tingginya. Tiba-tiba jadi menyesal tidak belajar tekun waktu itu. Waktu terus berjalan dengan konsisten sementara aku yang awalnya jalan seperti siput jadi harus transformasi menjadi macan tutul. Bikin capek. Tapi akhirnya bisa juga aku lulus. Untung ingatan-ingatanku tidak bandel dan kabur pergi ketika hari H, yaitu ketika menjelang Ujian Nasional (UN) dan Ujian Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negri (SNMPTN). Dua-duanya lulus dan lolos seleksi padahal tidak belajar. Ketika UN tidak belajar karena penyakit malas kambuh dan pas SNMPTN-nya karena kecelakaan hingga masuk rumah sakit seminggu sebelum ujian. Hahaha. Its like a miracle for me. Kecelakaan membuatku kesulitan menyelesaikan soal-soal SNMPTN. That's why I said its miracle. Thx everyone. Especially my parent.

Hilang Kunci? Tidak!

Sebentar lagi liburan telah selesai. Liburan adikku yang masih sekolah maksudnya. Sebentar lagi harus masuk sekolah. Sementara selama ini mereka hanya tidur-tiduran dan main game online dirumah. Hampir tiap hari begitu. Aku jadi tidak mendapatkan jatah untuk internet. Setelah satunya sudah capek main dilanjutkan oleh adikku yang lain. Untung adikku hanya dua. Karena hampir seharian modem dimonopoli mereka maka waktu untuk internetku terpaksa harus pada malam hari sekitar jam 9 atau 10 ke atas. Niatnya buka FB jadi males. Inspirasi untuk nulis di blogspot juga sudah melayang ke langit. Mau cari sesuatu yang menarik juga sudah pudar. Haaish.

Walaupun begitu ada hal bagus yang dapat dipetik. Mobil jadi menganggur satu dirumah. Kalau dulu mesti bilang sebelumnya dan atur waktu baru dikasih bawa. Tapi sekarang jadi bebas. Bukan karena setiranku kacau - kalau kacau ga mungkin mobil selamat aku bawa ke bukit dan ke luar kota. Jadi terserah mau pakai apa saja. Motor oke. Pakai mobil juga silakan. Aku jadi tidak usah minta izin sehari sebelumnya lagi. Hahaha..*evil laugh.

Kendaraan itu cukup penting bagiku yang suka berpergian. Entah untuk ke sekolah (dulu), kampus, toko buku - hampir 2 atau 3 kali seminggu, ke supermarket - buat keperluan sendiri atau rumah, ke rumah teman buat kerjain tugas, dll. Kendaraan yang digunakan tentu harus sesuai dengan tujuan dan keperluan. Pernah waktu aku membeli keperluan untuk miniatur bangunan yang bahan-bahannya cukup besar seperti gabus sangat menyulitkanku karena waktu itu menggunakan motor. Lupa pakai mobil. Tapi sudah terlambat. Gara-gara itu aku diam diparkiran hingga 15 menit untuk berpikir kayak orang kehilangan kunci kendaraan. Diam saja melihat motor tapi sebenarnya pikiranku muter-muter jungkir balik dan loncat-loncat - pasti di otakku ada lahan kosong tempat senam lantai seluas 1 hektar. Berkali-kali aku didatangi oleh satpam yang berbeda-beda dan berkali-kali pula aku menyautnya, 'tidak ada apa-apa pak.' Kening Pak Satpam selalu mengerut sebelum akhirnya pergi. 'Anak aneh', begitu yang ada dibenaknya.

Hal Kecil Menjadi Besar

Aku marah sekali dengannya. Kata-katanya seolah-olah menyamakan aku dengan orang lain. Dan lagi dia mengatakan kalau hal sepele ini tidak usah dipeributkan lagi. Sepele? Oke kalau itu maumu. Aku dengar kalimat itu rasanya seperti meledak kepalaku. Handphoneku sudah basah entah dari kapan airmata ini datang. Aku bingung. Apa aku yang terlalu perasa orangnya. Aku kesel sekali. Dari siang sudah cari gara-gara. Kata-katanya tajam sekali seperti cutter. Nusuk sekali. Membuatku terus berpikir letak kesalahanku dimana. Kalau bukan karena aku sangat menyayanginya aku tidak akan semarah ini. Perasaanku mulai tidak enak. Nafasku tidak beraturan. Pikiranku kacau sekali. Berpikir sana sini ga jelas. Mata sudah perih sampai kesulitan untuk sekedar membaca sms. Jadi ingat nasehat kakek studioku yang mengatakan berpikir banyak itu boleh tapi harus tetap pada pendirian. Sama seperti konsep struktur atap pada bangunan tradisional daerah sini.

Aku masih diam dikamar. Amarahku menurun perlahan karena tau dia juga merasa bersalah. Mengingat dia juga memiliki masalah lain yang juga harus dipikirkan. Masalahnya sebenernya sederhana tapi aku yang terlalu berlebihan dan dia yang terlalu malas memikirkannya dan menutup pembicaraan dengan kata-kata tidak enak. Tumbennya sehari ini dia mengatakan minta maaf hingga tujuh kali. Angka yang cukup besar menurutku. Dia orangnya realitis. Minta maaf pada waktunya. Dan tidak pernah mengatakan berlebihan. Kata maaf berkali-kali itu sudah cukup mewakili permintamaafnya. Walau sederhana berupa kata-kata, itu sudah sangat cukup bagiku. Itu karena aku sayang sekali padanya. ^^

Peringatan!

Seperti yang pernah saya bilang sebelumnya pada posting pertama, saya disini hanya bermaksud menceritakan apa yang saya alami atau orang sekitarku agar hal ini dapat menginspirasi pada hidup pembaca ataupun agar tidak ada yang mengulangi kesalahan seperti saya.

Tidak ada nama asli yang tercantum disini. Tidak ada maksud negatif seperti mengejek ataupun menghina. Semua yang saya tulis memang berdasarkan kisah nyata tapi nama dan tempat akan disamarkan untuk kebaikan masing-masing. Jika masih merasa tidak terima dengan apa yang saya tulis disini silakan komplain langsung ke saya (lihat ke profile) tanpa harus memberitakan sesuatu yang jelek dibelakang lebih dahulu. Terimakasih atas pengertiannya.

Enjoy reading my blog ^^

Friday, 2 July 2010

Kamarku Istanaku

Itu istilah yang tepat untuk kamarku. Bagaimana tidak? Kamarku memiliki berbagai fungsi selain menjadi tempat tidur. Selain ranjang di kamarku juga memiliki perabotan lainnya yang cukup memenuhi ruangan. Aku sudah menempati kamar ini sejak SD kelas 6 atau SMP kelas 1 -- kalau tidak salah ingat. Karena waktu itu aku masih seorang bocah yang taunya hanya menuntut ilmu dan membuat keonaran ga jelas ditetangga makanya dikamarku diletakan sebuah meja belajar yang entah darimana datangnya karena tau-tau sudah ada dikamarku waktu itu tanpa ada prosuder panjang.

Seperti kebanyakan anak-anak lainnya, membaca merupakan salah satu hobiku yang tertanam dari dulu dan masih berjaya hingga sekarang-- hahaha. Banyak sekali waktu aku habiskan untuk membaca. Tapi semenjak tau mataku mulai berkurang penglihatannya waktu membacapun aku kurangin. Biasanya satu minggu aku dapat menghabiskan hingga 100-an buku komik + novel hingga majalah dan koran. Tapi sekarang hanya seperlunya saja. Karena hobi aneh itulah kamarku dirobak hingga dapat memuat 1000 buku lebih.

Ada sebuah lemari yang menhabiskan tempat disalah satu dindingku. Benar-benar satu dinding. Dari bawah tempat aku berpijak dan loncat-loncat hingga mentok di langit-langit atap. Beragam buku ada disana. Mulai dari buku pelajaran SMA, seikat ijazah + sertifikat yang sudah lupa kapan dapatnya, piala juara dua - lupa juga juara apa dan letaknya diatas membuatku tidak dapat melihat jelas lomba yang dimenangkan, koleksi komik dari dora sampai serial detektive juga ada, sekumpulan novel-novel ga jelas mulai dari novel amburadul hingga serial sihir dan vampir, tumpukan beberapa buku hasil dari tulisanku yang benar-benar tidak sesuai EYD, kumpulan kamus berderet dari bahasa Indonesia (ada 3 buku) hingga bahasa Bali ada, buku-buku persiapan UN dan SNMPTN hampir menghabiskan tiga deret, ada boneka kecil-kecil pemberian orang, ada beberapa DVD jg karena memang bukan disini tempat penyimpanannya, ada deretan khusus diletakan segala pernak pernik obat berobat -- gara-gara dulu terobsesi menjadi dokter dan setelah ga dapet malah sering kecelakaan, dan masih banyak yang benar-benar susah untuk didiskripkan. Sudah banyak dibedah barang-barangnya. Seperti contoh buku-buku SMP yang dulunya menghuni lemari ini sekarang berada dipojokan gudang tanpa jendela lantai satu sambil menangis meraung -- eit, kayaknya yang meraung anjingku deh bukan buku SMPku.

Alhasil kamarku kelihatan kecil, sumpek, berdebu gara-gara lemari sedinding ini. Belum lagi setelah masuk jurusan tersibuk dan teraneh (kata Ibuku), datang sebuah meja gambar yang memakan tempat lumayan banyak karena besar papannya hingga a0 lebih 10 cm ditiap pinggirnya. Bikin makin sumpek aja. Harusnya sekalian aku request meja gambar lipat. Hahaha.. =,='

Tidur dengan lemari sedinding memerlukan adaptasi hingga 4 hari bagiku. Waktu itu masih SMP kelas 1, dan mendapatkan lemari yang tingginya hingga 3x tinggiku membuatku syok. Ketika tidur sering kali aku membayangkan sesuatu yang aneh-aneh seperti komik berjalan-jalan sendiri ataupun boneka yang tertawa sinis sambil menatapku tidur. Hiiiy. Setelah empat hari tidur tidak tenang bersama si lemari besar ini barulah aku bisa membiasakan diri. Huft. Perjuangan nih.