Wednesday, 30 June 2010

Janjiku Dibawah Hujan

Ada jalur perjalanan yang hampir selalu aku lewati untuk menuju ke rumah. Disana ada sesuatu yang cukup menarik perhatianku. Ada seseorang lelaki lusuh yang duduk di trotoar diseberang supermarket ternama. Rambutnya panjang kusut berantakan. Baju yang dikenakan sudah longgar dan terdapat robekan dimana-mana. Warnanya pun sudah tidak dapat dikenali lagi karena luntur akibat sinar matahari dan hujan. Tangannya selalu terulur ke orang-orang untuk meminta belas kasihan. Profesinya tak lain adalah seorang pengemis.

Aku sudah melihatnya sejak aku masuk ke bangku SD kelas 4. Aku pernah pulang dengan berjalan kaki dan melewati pengemis itu. Karena itulah keberadaan orang itu cukup membekas dalam ingatanku. Hingga sekarang, sudah 9 tahun lebih lelaki itu berada ditempat yang sama dengan baju yang sama dia kenakan ketika aku yang masih kelas 4. Mungkin karena kakinya yang lumpuh membuatnya sulit untuk beranjak dari sana.

Suatu hari aku pulang dari kampusku yang berada di Pusat Kota. Aku lewati jalan itu lagi. Dan tentunya melihat dia masih berada disana. Dengan pose yang sama seperti kemarin. Banyak pertanyaan yang berkecambuk dalam pikiranku. Dimana dia biasanya bermalam? Apakah dia mendapatkan makan yang cukup? Hal ini tidak dapat kubayangkan sebelumnya. Sinar matahari yang terik membuatku mempercepat kendaraanku hingga ke rumah dan melupakan apa yang baru kupikirkan.

Tepat 7 tahun yang lalu, aku dan keluargaku berkunjung kerumah teman Ayahku yang letaknya kebetulan dekat tempat pengemis itu berada. Saat itu aku disibukkan oleh urusan teman Ayahku itu dan melupakan mengenai pengemis itu. Setelah urusan selesai, kami bermaksud pulang. Tapi tiba-tiba hujan yang deras turun seenaknya. Teman Ayah langsung menyuguhkan teh dan meminta kami untuk diam sejenak disana hingga hujan berhenti. Kami tidak bisa menolaknya. Lagipula hari itu kami memang tidak mempunyai kesibukan lainnya.

Aku diam duduk dimeja dengan tangan menyangga wajahku. Pandanganku lurus ke arah luar ketempat hujan berada. Tiba-tiba aku langsung ingat mengenai pengemis tersebut. Segera aku lari keluar dan mengambil cepat payung yang ada. Aku berlari keluar dan melihat pengemis itu tetap berada diposisinya. Seperti patung. Dia tidak bergerak dengan posisi duduk. Aku hampir tidak dapat bernafas. Pemandangan ini hatiku bergerak. Air mataku menetes perlahan dan berbaur dengan air hujan. Aku perlahan mendekati lelaki itu. Perlahan. Dengan kaki terseret. Aku takut ternyata dugaanku tepat. Aku takut kalau ternyata benar lelaki itu telah meninggal. Rasanya tidak enak mengetahui dia telah pergi sebelum aku dapat melakukan apa-apa. Apa yang kulakukan selama ini? Hanya melihatnya dan pergi. Oh Tuhan maafkan hambamu ini.

Jarakku dengan pengemis itu hanya 20 cm. Lebar payungku dapat menjangkaunya dan membuat air hujan tidak mengenainya untuk sementara. Jarak ini membuatku cukup jelas melihat tubuhnya sedikit bergerak. Dadanya masih naik turun menandakan dia masih bernafas walaupun sangat pelan. Matanya yang semula terpejam kini terbuka perlahan-lahan. Dia menatapku dengan matanya yang berwarna abu-abu. Dia berbicara. Tapi aku sama sekali tidak dapat menangkap satupun kata-katanya. Dia hanya mengulang-ngulang sebuah kata. Mungkin sebuah nama. Dia membuka mulutnya dan mengucapkan sebuah kata lagi. Dan lagi. Aku seperti anak TK disana karena aku sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakannya. Aku bermaksud membantunya tapi tidak tau harus membantu apa. Aku mengeluarkan uang yang merupakan uang sakuku yang terkhir dan memberikan kepadanya. Aku menaruh uang itu diatas telapak tangan lelaki itu dan menggerakkan tangan itu untuk menggenggamnya. Aku berkata,'Ini semua uang yang kumiliki, ambillah. Suatu hari jika aku sudah bekerja dan kakek masih disini aku akan datang kesini setiap hari dan memberi kakek makanan dan baju yang layak. Semoga kakek dilindungi sama Tuhan.' Aku berdiri. Dan dengan berat hari beranjak dari sana.

Setelah kejadian itu aku masih melihatnya disana terus menerus ketika pulang dari sekolah. Pulang dari kampus. Hingga sekarang.

Monday, 28 June 2010

I Don't Care At All

Kesehatan makin menurun membuat segalanya semakin kacau. Mulai dari tugas yang amburadul, untungnya selesai tepat waktu - thx to my grandpa and Koga. Tugas kelompok yang akhirnya begadang sendiri 2 hari untuk menyelesaikannya. Hubunganku dengan seorang teman mulai longgar dengan sendirinya. Ayahku sakit dan masih keras kepala tidak mau ke dokter - sepertinya sifat ini menurun ke anak pertamanya. Sebentar lagi Short Semester akan dimulai padahal masih ingin berlibur T.T hiks.. Rasanya sudah ga semangat hidup. Mau lakuin apa saja sudah malas. Setiap nyetir sudah ga tau sudah sampai dimana. Ga pernah lihat jam lagi. Ga peduli. Ga mau tau. Memang ada yang khawatir aku apa. Ck. Memang siapa yang memerlukanku.

Monday, 21 June 2010

Mulutmu Itu Seperti Pisau

Coba aja lakuin seperti itu terus. Kamu bakal tau apa yang salah dari perbuatanmu. Sudah banyak yang nasehatin tak terkecuali pacarmu tapi km masih saja tidak peduli. Aku ga masalah kamu mau berbuat apa tapi kalo hal itu menyangkut diriku aku bakalan kesel juga. Apalagi kalo mengenai hal yang sebenarnya tidak ada. Suka banget sih ngomongin orang. Kurang kerjaan. Terus dah gitu sampai kamu puas. Ga tau apa kalau kata-katamu itu membuat segalanya kacau. Mulut itu dipakai bagaimana semestinya. Bodoh. Dari aku sekolah sampai kuliah selalu saja ad 2-3 orang seperti ini. Ga ada habisnya. Apalagi orang jenis seperti ini selalu saja mendiskriminasi ras orang. Ckck. Mengertilah kalo kalau kita tinggal ditempat yang memiliki berbagai suku dan budaya.

Monday, 14 June 2010

Salahkah Aku Minta Maaf?

Tengah Malam aku baru pulang dari tempat print tugas karena hampir satu angkatan print out tugas disana. Tempat jadi penuh. Mau lewat mesti bilang biar diberi ruang lebih untuk lewat. Aku baru tau tugas ini tadi pagi sekitar jam 10 an. Seharian ini aku lumayan sibuk. Temanku shella minta ditemenin ngobrol. Karena hari itu aku sudah janji akan meluangkan waktuku untuknya walau dikit. Karena itu aku berencana kerumahnya bikin tugas sambil mendengerkan dia bercerita. Setelah 2 jam lebih akhirnya tugasku hampir selesai. Tapi tiba-tiba laptop jadi aneh. Not responding. Oh tidaaak. Aku langsung buru-buru pulang. Tapi jalan keluar dari rumah Shella di aspal. Jadi mesti menunggu. Aeeh. Belum lagi ada temanku si Rosa yang sejak pagi minta barengan nge-print tugas. Aku jadi panik ga karuan. Dia terus menerus sms dan telpon minta secepatnya. Haah.. =,=

Setelah pulang aku malah dimarah oleh Koga. Kepalaku pusing sekali. Capek. Makan telat. Daritadi sibuk bolak balik. Mata sudah capek gara-gara kelamaan didepan layar laptop. Tapi kerjaan tidak ada yang benar-benar selesai. Niatnya pulang dengerin suara Koga biar agak baikan moodnya malah kena bentak. Kata-katanya setajam pisau. Serasa di tusuk berkali-kali ditempat yang sama. Sakit banget. Bahkan sakit dikakiku sudah tidak terasa lagi. Tanganku mati rasa dari tadi pegang handphone ga jelas. Di telpon. Dimatiin lagi. Di telpon lagi. Dan untuk kesekian kali dimatiin lagi. Aku ingin minta maaf karena telah membuatnya cemas. Tapi yang kudapatkan lain. Aku jadi serba salah. Minta maaf salah. Habis sudah kata-kataku. Pusing. Mataku sampai perih sekali. Hiks.

Thursday, 10 June 2010

Tidak Akan Kuucapkan Kedua Kali

Ada beberapa kalimat yang berhasil lahir dari pengalaman-pengalaman orang yang patut diilhami. Salah satunya: "Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak dapat melupakannya."

Aku pernah kehilangan seseorang yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Dia meninggalkan dunia ini setelah baru masuk ke bangku kuliah karena sakit. Sakit yang tidak pernah kuketahui sebelumnya. Dia tidak pernah menceritakannya. Yang kutahu selama aku mengenalnya dia orang yang ceria. Dia selalu bercerita padaku mengenai apa saja. Dia juga bercerita mengenai mimpi dan cita-citanya untuk membeli Honda Jazz White Edition dengan uangnya sendiri. Ketika mendapat masalah dia selalu mengatakan pada dirinya, 'ayo semangat Rya.'Ketika temannya mendapat pengalaman buruk misalnya tidak dapat masuk ke universitas incarannya ataupun masalah dengan pacar, dia selalu menjadi penyemangat. Aku masih ingat bagaimana suaranya. Ada beberapa pesan singkat melalui sms darinya masih tersimpan dalam ponselku. Jadi sedih banget kalau baca smsnya.

Aku benar-benar kaget ketika dia dikabarkan meninggal karena sakit. Diketahui dari Ibunya kalau dia sakit karena kelelahan menjalannya OSPEK. Aku syok bukan main. Karena aku sempat mengatakan selamat tinggal padanya ketika hari terakhir di bimbingan belajar. Tidak kusangka benar-benar terjadi, karena itulah aku tidak akan sembarangan mengatakan selamat tinggal kepada orang yang ada disekelilingku terutama yang aku sayang.

Ketika mengetahui berita duka itu, kepalaku langsung kosong ga tau mau mikir apa. Aku ingat waktu itu aku iseng juga mencari jurusan Kedokteran Gigi dan ikut ujian tes bersamanya pada hari pertama. Hari kedua adalah ujian kesehatan dan hari dimana aku langsung mengundurkan diri. Ketika dia menerima hasil pengumumannya dan mengetahui bahwa dirinya akhirnya masuk kesana dia terlihat sangat senang dan loncat-loncat kegirangan ditempat bimbingan belajar. Semua orang ikut tertawa melihat kelakuannya. Wajah itulah wajah yang paling senang yang pernah dia perlihatkan padaku dan wajah terakhir yang kulihat sebelum dia pergi. Selamat jalan.